Tampilkan postingan dengan label ppp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ppp. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 September 2015

Propaganda ISIS; upaya jauhkan muslimin dari Islam?

Suatu waktu,  sebagai unsur pengurus majelis ulama di tingkat terendah, Kelurahan. penulis diundang pihak kepolisian di sebuah ruangan di Hotel Trio Bandung. Selain penulis banyak juga tamu undangan yang hadir, terdiri dari: unsur ulama, ustadz, ketua rw, lurah dan camat.
Dalam pertemuan tersebut dijelaskan bagaimana kelompok radikal ISIS (Negara Islam Irak Suriah) berkembang di negara asalnya: Irak dan Suriah. Lalu, konon katanya, menyebar ke Indonesia. Dan mempunyai sejumlah pengikut. Ditayangkan pula video perekrutan/ ajakan bergabung menjadi anggota ISIS seperti yang sering diputar di TV TV nasional maupun di You tube. Sejumlah eksekusi mati juga ditayangkan pada pertemuan tersebut.
Ujung-ujungnya dijelaskan bahwa ISIS itu adalah kelompok radikal berbahaya yang kini mulai berkembang pesat termasuk di Indonesia. 
Diterangkan juga ciri-ciri detil kelompok ini, yaitu; berpakaian serba hitam, meneriakan dan menuliskan kalimat Laa ilaha illa Allah serta berkelompok membuat organisasi massa atau organisasi gerakan.
Saat sesi tanya jawab penulis diberi kesempatan untuk bertanya atau memberikan tanggapan atas materi yang disampaikan pihak kepolisian. Setidaknya ada tiga hal yang disampaikan penulis pada quorum tersebut, dengan harapan agar pihak kepolisian atau warga masyarakat tidak sembarangan menuduh orang, menghakimi orang, menghukumi orang, mencurigai orang yang mirip dengan ciri-ciri kelompok ISIS. Karena bisa aja hal tersebut salah. Penulis tidak mau terulang kejadian tuduhan kelompok "teroris" melekat pada Islam dan ummatnya, sehingga orang yang dicurigai berhak untuk ditangkap, dihukum, dihakimi, bahkan dibunuh tanpa melalui proses peradilan dengan mengedanpan praduga tak bersalah, sebagaimana diterapkan pada pelaku kriminal lainnya.
Ketiga hal tersebut adalah;
Pertama bahwa kalimat atau tulisan laa ilaaha illa allah adalah kalimat maupun tulisan yang sangat familiar dibaca, didengar, dipelajari di mesjid, di majelis-majelis taklim, di madrasah, di rumah maupun di tempat-tempat lainnya. Jadi orang atau kelompok yang membaca, menulis, mendengarkan, mempelajari kalimat dan tulisan laa ilaaha illa Allah adalah bukan kelompok ISIS. Mereka adalah muslim mu'min sebagaimana layaknya rakyat Indonesia lainnya.
Kedua; terkait pakaian serba hitam, penulis mengatakan bahwa ada kalanya orang, siapa pun dia, mengenakan pakaian serba hitam. apalagi di tatar Sunda dimana pakaian serba hitam menjadi pakaian wajib di hari Rabu bagi pelajar maupun PNS. Jadi yang mengenakan pakaian serba hitam, belum tentu ISIS. Mereka adalah Rakyat Indonesia seperti yang lainnya.
Ketiga; terkait organisasi Islam, penulis mengatakan bahwa di Indonesia sejak puluhan tahun lalu sudah berdiri organisasi-organisasi Islam, seperti; Muhammadiyah, NU, Persis, Alwashliyah dll, bahkan gerakan politik yang tergabung dalam; PPP, PKS, PKB maupun PAN. Jangan sampai kelompok oraganisasi yang sudah ada bahkan berjasa bagi negara dan bangsa Indonesia dituduh menjadi kelompok radikal ISIS.
Dengan tiga pernyataan penulis tadi, akhirnya pihak kepolisian menyampaikan bahwa yang diwaspadai, dicurigai adalah ideologi ISIS bukan pada ciri-ciri fisik.
Nampak ada penggiringan opini agar umat Islam meninggalkan kalimat laa ilaha illa Allah baik dalam tulisan maupun bacaan dengan cara diintimidasi dan ditakut-takuti. Selain itu ada kehendak untuk mencurigai ormas-ormas Islam yang ada dengan mengait-ngaitkannya dengan gerakan radikal ISIS.
Namun sebagaimana kita ketahui sejumlah tokoh-tokoh Islam sudah "cuci tangan" dengan ISIS dan secara tegas mengatakan bahwa Islam dan ummat Islam di Indonesia menganut faham Islam rahmatan lil alamiin artinya Islam yang memberi keselamatan, keamaanan ke seluruh alam.
Kiranya sampai kapanpun Islam di Indonesia membutuhkan tokoh-tokoh Islam yang cerdas dan pandai menyiasati kondisi dan situasi sosial politik di Indonesia agar Islam dan ummat Islam di Indonesia tetap terjaga. 

Selasa, 08 September 2015

Kenapa ulama, kiayi pakai gamis putih?

Masyarakat seringkali melihat penceramah, mubaligh, kiayi maupun ulama yang berpakaian gamis putih atau hitam sekalian saat yang bersangkutan menyampaikan tausiah, ceramah atau pengajian. Walaupun banyak juga dari mereka yang berpakaian batik, koko polos berwarna plus kopiah hitam khas Indonesia atau topi haji. 
Yang menggunakan baju batik atau koko aja biasanya mereka dari ormas Persis, Muhammadiyah atau Syarikat Islam.  Sedangkan dari Nahdlatul ulama atau ormas lainnya kebanyakan memakai gamis putih atau hitam. Sesekali ada juga yang memakai dengan warna lain seperti hijau. Tapi warna hijau biasanya identik dengan kelompok PPP atau PKB. Adakalanya para mubaligh juga memakai jas hitam tanpa dasi saja.
Terus kenapa pakai gamis putih atau hitam?. Abaikan dulu yang hitam karena saat ini gamis hitam atau pakaian serba hitam seringkali dicurigai sebagai ISIS, walaupun anggapan tersebut salah kaprah.
Yang penulis amati inilah sebabnya: 
  1. Dalam hal pemakaiannya gamis putih atau hitam relatif mudah dikenakan, tidak repot, tidak berlebihan serta menutupi kekurangan dalam hal pakain dalam kiayi, ulama atau mubaligh.
  2. Selain menutup aurat gamis putih juga berfungsi untuk menjaga wibawa ulama, kiayi atau mubaligh. Dia tidak keliatan lucu atau imut-imut. sehingga bisa membuyarkan materi yang disampaikannya. Coba aja bayangkan sang ulama atau kiayi menyampaikan materi yang cukup menggelora, semangat, berapi-api tapi sang ulama, kiayi, mubaligh pakai baju kotak-kotak atau bahkan bunga pink atau merah. 'kan jadi gak singkron dengan materi. 
  3. Gamis putih juga menjaga konsentrasi audiensi atau jamaah dari dugaan atau daya khayal audiens atau jamaah terhadap ulama, kiayi, mubaligh. Jamaah akan fokus pada materi yang disampaikan ulama, kiayi, mubaligh tidak liar ke segala arah.
  4. Gamis putih juga cocok untuk segala suasana pengajian: bisa kondisi bersedih, gembira, semangat, atau berapi-api.
Materi ceramah juga penting tapi untuk menjaga hal-hal tersebut diatas memang sebaiknya para ulama, kiayi, mubaligh, atau dai mengenakan pakaian yang selaras dengan tujuannya atau majelis yang dihadapi. Agar risalah para Nabi dan rosul bisa disampaikan dengan khidmat kepada ummat. Wallahu a'lam bishshowab.