Selasa, 08 September 2015

Kenapa ulama, kiayi pakai gamis putih?

Masyarakat seringkali melihat penceramah, mubaligh, kiayi maupun ulama yang berpakaian gamis putih atau hitam sekalian saat yang bersangkutan menyampaikan tausiah, ceramah atau pengajian. Walaupun banyak juga dari mereka yang berpakaian batik, koko polos berwarna plus kopiah hitam khas Indonesia atau topi haji. 
Yang menggunakan baju batik atau koko aja biasanya mereka dari ormas Persis, Muhammadiyah atau Syarikat Islam.  Sedangkan dari Nahdlatul ulama atau ormas lainnya kebanyakan memakai gamis putih atau hitam. Sesekali ada juga yang memakai dengan warna lain seperti hijau. Tapi warna hijau biasanya identik dengan kelompok PPP atau PKB. Adakalanya para mubaligh juga memakai jas hitam tanpa dasi saja.
Terus kenapa pakai gamis putih atau hitam?. Abaikan dulu yang hitam karena saat ini gamis hitam atau pakaian serba hitam seringkali dicurigai sebagai ISIS, walaupun anggapan tersebut salah kaprah.
Yang penulis amati inilah sebabnya: 
  1. Dalam hal pemakaiannya gamis putih atau hitam relatif mudah dikenakan, tidak repot, tidak berlebihan serta menutupi kekurangan dalam hal pakain dalam kiayi, ulama atau mubaligh.
  2. Selain menutup aurat gamis putih juga berfungsi untuk menjaga wibawa ulama, kiayi atau mubaligh. Dia tidak keliatan lucu atau imut-imut. sehingga bisa membuyarkan materi yang disampaikannya. Coba aja bayangkan sang ulama atau kiayi menyampaikan materi yang cukup menggelora, semangat, berapi-api tapi sang ulama, kiayi, mubaligh pakai baju kotak-kotak atau bahkan bunga pink atau merah. 'kan jadi gak singkron dengan materi. 
  3. Gamis putih juga menjaga konsentrasi audiensi atau jamaah dari dugaan atau daya khayal audiens atau jamaah terhadap ulama, kiayi, mubaligh. Jamaah akan fokus pada materi yang disampaikan ulama, kiayi, mubaligh tidak liar ke segala arah.
  4. Gamis putih juga cocok untuk segala suasana pengajian: bisa kondisi bersedih, gembira, semangat, atau berapi-api.
Materi ceramah juga penting tapi untuk menjaga hal-hal tersebut diatas memang sebaiknya para ulama, kiayi, mubaligh, atau dai mengenakan pakaian yang selaras dengan tujuannya atau majelis yang dihadapi. Agar risalah para Nabi dan rosul bisa disampaikan dengan khidmat kepada ummat. Wallahu a'lam bishshowab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar